Category Archives: Artikel lain

  • 0

Masalah Miqat dan Ihram bagi Orang ber Haji maupun Umroh

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Orang yang bertempat tinggal kurang dari miqat, dari manakah ia berihram ?

Jawaban
Bagi orang yang tempat tinggalnya kurang dari miqat, maka ihram dari tempat dia berada. Seperti penduduk Ummu Salam dan penduduk Bahrah, maka mereka ihram dari tempat mereka, dan penduduk Jeddah ihram dari daerah mereka. Sebab dalam hadits dari Ibnu Abbas disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang kurang dari itu -maksudnya kurang dari tempat-tempat miqat itu-, maka tempat ihramnya dari mana dia berada” [Muttafaqun a’laih]

Dalam redaksi lain disebutkan’

“Artinya : Maka tempat ihramnya dari mana dia berada, termasuk penduduk Mekkah, maka mereka ihram dari Mekkah” [Muttafaqun a’laih]


IHRAM ORANG YANG DI MINA

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum orang yang di Mina sebelum hari tarwiyah, apakah memasuki Mekkah terlebih dahulu dan ihram di Mekkah, ataukah dia berihram dari Mina ?

Jawaban
Orang yang berada di Mina dia juga berihram di Mina dan tidak perlu masuk ke Mekkah, bahkan dia berihram haji di tempatnya jika telah masuk waktunya.

IHRAM PADA HARI TARWIYAH

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Dari manakah ihram orang haji pada hari tarwiyah ?

Jawaban
Ihram dari tempatnya sebagaimana ihramnya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari rumah mereka masing-masing di Al-Abthah dalam haji wada’ atas perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian juga ihram orang yang bertempat tinggal di Mekkah. Ia ihram dari rumahnya sendiri berdasarkan hadits Ibnu Abbas tersebut dan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa yang (rumahnya) kurang dari itu -maksudnya setelah melewati tempat-tempat miqat-, maka tempat ihramnya dari tempat dia berada, meskipun penduduk Mekkah maka mereka berihram dari Mekkah” [Muttafaqun a’laih]

IHRAM SEBELUM MIQAT DAN SEBELUM BULAN-BULAN HAJI

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apakah hukum ihram sebelum miqat ? Dan apakah sah ihram haji sebelum bulan-bulan haji ?

Jawaban
Tidak mengapa ihram sebelum miqat makani, seperti anda ihram dari Thaif dengan cara mandi, memakai pakaian ihram, niat dan membaca talbiyah. Bagi penduduk Madinah boleh berihram dai rumah mereka. Juga diperbolehkan bagi penduduk Mesir jika mereka bertujuan pergi haji untuk ihram ketika keluar dari rumahnya atau ketika naik pesawat terbang menuju Jeddah. Akan tetapi yang demikian itu kurang utama. Adapun ihram haji sebelum bulan-bulannya, seperti ihram haji pada bulan Ramadhan maka demikian itu tidak boleh menurut sebagian ulama karena menganggapnya seperti takbiratulihram dalam shalat sebelum masuk waktu shalat. Barangkali yang lebih mendekati kebenaran adalah bahwa ihram seperti itu sah hukumnya. Sebab mendahulukan ihram tidak membatalkan haji. Hanya saja demikian itu memberatkan orang yang ihram karena panjangnya masa ihram, dimana dia harus ihram sampai hari Arafah dan hari Nahar. Dan demikian ini adalah suatu yang berat. Wallahu a’lam.

[Disalin dari Buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustakan Imam Asy-Syafi’i hal 80 – 83. Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc]


  • 0

Makna Ihram

Sebelumnya, pernahkah anda bertanya mengapa kita diwajibkan untuk memakai pakaian ihram pada waktu haji dan umroh ? Lalu mengapa pakaian ihram tersebut tidak boleh dijahit? Dan mengapa harus berwarna putih serta terbuat dari bahan yang sama? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita harus merujuk kepada salah satu firman Allah Swt. yang menyatakan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan dengan status yang sama yakni sebagai khalifah di bumi (QS. 6:165, QS. 10:14) dan sesungguhnya yang membedakan manusia dihadapan Allah Swt. adalah iman dan taqwa (QS. 49:13). Dengan memakai ihram, maka manusia dibebaskan dari status-status yang bersifat duniawi. Kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang sedang berhaji ketika itu, mungkin ada pengusaha, artis, atau mungkin pejabat diantara kita karena ketika kita berhaji, maka satu-satunya status yang melekat pada diri kita adalah sebagai hamba Allah Swt., tidak lebih.

Makna lain yang terkandung dalam pemakaian pakaian ihram adalah sesungguhnya kita menghadap Allah Swt. dalam ketelanjangan. Itu sebabnya kita dilarang untuk menjahit ihram. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita datang menghadap Allah Swt. dalam ketelanjangan? Sebenarnya hal tersebut merupakan perumpamaan dimana kita diminta untuk menghadap Allah Swt. dengan apa adanya, tidak terjebak oleh materi-materi duniawi, seperti pakaian sehari-hari yang, kembali, dapat melekatkan kita kepada status yang ada di dalam masyarakat.

Selain itu, pernahkah anda menyadari bahwa dengan memakai ihram, sesungguhnya kita diingatkan bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah abadi, melainkan hanya senda gurau belaka (QS. 29:64). Dalam hal ini, pakaian ihram dianalogikan sebagai kain kafan yang setiap saat dapat membalut tubuh kita. Untuk itu kita harus menyadari benar konsep inna lillahi wa inna ilaihi raji’un yang mengandung arti bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Allah Swt. dan kepada-Nyalah kita akan kembali.

Pemaparan di atas merupakan makna dari ihram apabila ditinjau dari dimensi yang pertama, yaitu dimensi vertikal. Lalu apakah makna ihram apabila dilihat dari dimensi yang kedua, yaitu horizontal? Sesungguhnya, makna yang terkandung sangatlah sederhana yaitu kita diminta untuk menanggalkan segala kepalsuan dan diminta untuk senantiasa bertindak apa adanya. Salah satu budaya negatif dari masyarakat Indonesia yang mengandung unsur kepalsuan tersebut adalah budaya hipokrit atau mungkin kita lebih mengenalnya dalam kalimat asal bapak senang (ABS). Hipokrit atau munafik, merupakan suatu sikap dimana kita melegalkan kedustaan demi tercapainya keinginan pribadi. Sebagai contoh, kita sering mendengar seseorang memuji atasannya demi kenaikan pangkat, bukan karena atasannya memang layak untuk dipuji karena kepribadiannya ataupun etos kerjanya.

Di samping itu, dengan memakai pakaian ihram kita disadarkan untuk melepaskan diri dari kesombongan, klaim superioritas, maupun ketidaksamaan derajat atas manusia yang lain. Oleh karena itu, kita diharuskan agar senantiasa berbuat baik serta mengedepankan sikap untuk saling menghormati dengan sesama. Apabila hal ini dapat terwujud, maka cita-cita akan perdamaian, toleransi, ataupun kerukunan masyarakat akan lebih mudah untuk direalisasikan.


  • 0

Makna Thawaf

Thawaf merupakan rangkaian dari ibadah haji dimana kita diharuskan untuk mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Pada hakekatnya, pelaksanaan thawaf dapat diartikan sebagai tindakan meniru perilaku alam semesta yang senantiasa ‘berdzikir’ kepada Allah Swt. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan alam, kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya benda-benda alam senantiasa bergerak. Gunung yang besar dan kokoh ternyata bergerak (bergeser), bulan bergerak dengan mengelilingi bumi, bumi bergerak dengan mengelilingi matahari, dan mataharipun bergerak mengelilingi pusat dari gugusan-gugusan bintang yaitu galaksi bima sakti (milky way) atau yang kita kenal dengan sebutan black hole. Inilah makna thawaf dalam dimensi vertikal, yaitu penegasan bahwa sesungguhnya kita merupakan bagian dari alam semesta yang tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta, yakni Allah Swt. dan diharuskan untuk senantiasa mengingat-Nya.

Dalam dimensi horizontal, kita diminta untuk senantiasa hidup dengan penuh keteraturan seperti keteraturan gerak benda-benda alam raya. Bayangkan apabila gerakan yang dilakukan oleh benda-benda tersebut tidak teratur, tentunya akan mengakibatkan chaos (suatu keadaan dengan penuh ketidakteraturan) yang tentunya dapat membawa kehancuran kepada benda-benda alam itu sendiri. Sama halnya dengan benda-benda alam tersebut, manusia juga dapat mengalami kehancuran apabila tidak hidup dalam keteraturan karena dapat memicu konflik. Keseimbangan hidup, itulah kunci agar kita dapat hidup dalam keteraturan, ingat, alam raya diciptakan juga atas dasar konsep keseimbangan (QS. 55: 7-9).

Selain masalah keteraturan, dalam melaksanakan thawaf kita juga diingatkan bahwa sesungguhnya kehidupan setiap manusia senantiasa berputar. Mungkin hari ini kita berada dalam kebahagian, tetapi mungkin esok kita hidup dalam kesusahan. Dan sesungguhnya semua itu merupakan cobaan dari Allah Swt. yang ingin menguji sampai sejauh mana tingkat keimanan kita.


  • 0

Hikmah Melempar Jumrah

Apakah tujuan melempar jumrah adalah melempar setan?Sebagian orang beranggapan bahwa melempar jumrah sama dengan melempar setan yang sedang diikat di tugu jamroh. Saking yakinnya dengan keyakinan ini, sampai-sampai mencari batu yang besar untuk melontar jumrah. Bahkan sampai ada yang melempar dengan sendal, sepatu, botol dan yang lainnya.

Cukup beralasan anggapan ini; bila kita telusuri ternyata mereka berdalih dengan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma saat menceritakan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,

عن ابن عباس رضي الله عنهما رفعه إلى النبي ‘ قال :” لما أتى إبراهيم خليل الله المناسك عرض له الشيطان عند جمرة العقبة فرماه بسبع حصيات حتى ساخ في الأرض ، ثم عرض له عند الجمرة الثانية فرماه بسبع حصيات حتى ساخ في الأرض ، ثم عرض له عند الجمرة الثالثة فرماه بسبع حصيات حتى ساخ في الأرض ” قال ابن عباس : الشيطان ترجمون ، وملة أبيكم إبراهيم تتبعون

Dari Ibnu Abbas radhiyallallahu’anhuma, beliau menisbatkan pernyataan ini kepada Nabi, “Ketika Ibrahim kekasih Allah melakukan ibadah haji, tiba-tiba Iblis menampakkan diri di hadapan beliau di jumrah’Aqobah. Lalu Ibrahim melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itupun masuk ke tanah . Iblis itu menampakkan dirinya kembali di jumrah yang kedua. Lalu Ibrahim melempari setan itu kembali dengan tujuh kerikil, hingga iblis itupun masuk ke tanah. Kemudian Iblis menampakkan dirinya kembali di jumrah ketiga. Lalu Ibrahim pun melempari setan itu dengan tujuh kerikil, hingga iblis itu masuk ke tanah“.

Ibnu Abbas kemudian mengatakan,

الشيطان ترجمون ، وملة أبيكم إبراهيم تتبعون

“Kalian merajam setan, bersamaan dengan itu (dengan melempar jumrah) kalian mengikuti agama ayah kalian Ibrahim“.

Dari sisi sanad riwayat di atas tidak ada masalah; status sanadnya shahih. Kisah di atas diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim, beliau berdua menshahihkan riwayat ini. Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib (2/17), hadits nomor 1156.

Hanya saja orang-orang keliru dalam memahami perkataan Ibnu Abbas di atas. Menurut mereka makna “merajam” dalam perkataan tersebut adalah melempari setan secara konkrit. Artinya saat melempar jumrah, setan benar-benar sedang terikat di tugu jumrah dan merasa tersiksa dengan batu-batu lemparan yang mengenai tubuhnya.

Padahal bukan demikian yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas dalam perkataan beliau. Merajam setan di sini tidak dimaknai makna konkrit, akantetapi yang benar adalah makna abstrak. Artinya setan merasakan sakit dan terhina bila melihat seorang mukmin mengingat Allah dan taat menjalankan perintah Allah. Dalam pernyataan Ibnu Abbas diungkapkan dengan istilah “merajam setan”. Demikianlah yang dimaksudkan Ibnu Abbas dalam perkataannya tersebut.

Terdapat bukti yang kuat, yang membenarkan kesimpulan ini. Diantaranya adalah firman Allah ta’ala,

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَات

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang” (QS. Al-Baqarah: 203).

Masuk dalam cakupan perintah berdzikir pada hari-hari yang berbilang dalam ayat di atas adalah melempar jumrah. Karena Allah ta’ala berfirman pada potongan ayat selanjutnya,

فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْه

“Barangsiapa yang ingin segera menyelesaikan lempar jumrahnya dalam dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menyempurnakannya dalam tiga hari, maka tidak ada dosa pula baginya.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Ini bukti bahwa hikmah disyariatkannya melempar jumrah adalah untuk mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, bukan untuk melempari setan. (Lihat: Adhwa-ul Bayan, 4/479).

Juga sesuai dengan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ ِلإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّه

“Sesungguhnya, diadakannya thawaf di Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwa dan melempar jumrah, adalah untuk mengingat Allah.” (HR. Abu Daud no. 1888. Di hasankan oleh Al-Arnauth).

Setelah menyampaikan hadits ini, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

هذه هي الحكمة من رمي الجمرات ولهذا يكبر الانسان عند كل حصاة لا يقول: اعوذ بالله من الشيطان الرجيم بل يكبر ويقول : الله اكبر. تعظيما لله الذي شرع رمي هذه الحصى

“Inilah hikmah dari ibadah melempar jumrah. Oleh karena itu, (saat melempar jumrah) orang-orang bertakbir di setiap lemparan, mereka tidak mengucapkan,

“A‘uudzubillahi minasy syaithanir rajiim” (kuberlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).

Mereka justru bertakbir, “Allahu akbar“, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah yang telah mensyariatkan ibadah melempar jumrah.” (Majmu’ Fatawa War Rasaa-il Ibni ‘Utsaimin, 3/133)

Jadi, hikmah disyariatkannya melempar jumrah adalah untuk mengingat Allah ta’ala. Bukan sebagaimana keyakinan sebagian orang, yang mengatakan bahwa melempar jumrah dalam rangka melempari setan.

Bila ada yang bertanya lebih spesifik lagi, “Mengapa Allah menetapkan ritual melempar jumrah sebagai sarana untuk mengingatNya? Seakan dua hal ini sulit untuk dipahami“.

Baiklah saudaraku, semoga Allah memberkahi Anda… Sesungguhnya Allah itu memiliki sifat Al-Hakim ( Yang Maha Bijak Sana). Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memerintahkan suatu ibadah begitu saja, tanpa ada manfaat di balik ibadah tersebut. Memang tak semua ibadah kita ketahui hikmahnya. Hal ini karena keterbatasan ilmu dan nalar kita. Namun kita sebagai seorang mukmin, meyakini bahwa pasti ada hikmah yang terkandung pada setiap perintah Allah ta’ala.

Minimal ketidak tahuan kita terhadap hikmah yang terkandung pada suatu ibadah, akan memunculkan rasa penghambaan yang sejujurnya. Dimana dia menjalankan ibadah semata-semata karena menjalankan perintah dari Tuhan yang tekah menciptakannya. Ia patuhi perintah Allah itu karena ia menyadari bahwa dirinya seorang hamba dan Allah memerintahkan susatu karena Allah menyayanginya. Pasti ada rahasia indah di balik semua itu.

Mari kita simak nasehat indah dari Imam Nawawi rahimahullah berikut,

ومن العبادات التي لا يفهم معناها : السعي والرمي ، فكلف العبد بهما ليتم انقياده ، فإن هذا النوع لاحظ للنفس فيه ، ولا للعقل ، ولا يحمل عليه إلا مجرد امتثال الأمر ، وكمال الانقياد فهذه إشارة مختصرة تعرف بها الحكمة في جميع العبادات والله أعلم انتهى كلام النووي

“Sebagian ibadah tidak diketahui maksud atau tujuannya, semacam sa’i dan melempar jumrah. Allah membebani seorang hamba untuk melakukan dua ibadah tersebut agar kepatuhannya kepada Allah semakin sempurna. Karena jiwa tidak mengetahui hikmah yang terkandung di dalamnya, tidak pula akal.

Tidak ada motivasi yang mendorongnya untuk melakukan perintah tersebut, melainkan semata-mata mematuhi seruan Allah, serta ketundukan yang sempurna (kepada Allah ‘azza wa jalla). Dengan kaidah ringkas ini, kamu akan mengetahui hikmah semua ibadah.”

(Dikutip oleh Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi dalam kitab tafsir beliau Adhwaa-u Al-Bayan 4/480, dari kitab Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab).

Demikian yang bisa penulis sampaikan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayahNya kepada penulis dan pembaca sekalian. Wallahu’alam bisshowab.

___

Sumber :

Diselesaikan di Wihdah 8, Komplek kampus Universitas Islam Madinah, KSA

Penulis: Ahmad Anshori

Muraja’ah: Ustadz. M. Abduh Tuasikal, ST., MSc

Artikel Muslim.Or.Id


  • 0

Bahaya Dibalik Paket Umroh Murah

Paket umroh murah ternyata beresiko sangat besar. Beberapa minggu terakhir ini kita disuguhi oleh berita bahwa kementerian agama akan mengambil alih pengelolaan umroh. Walaupun pada akhirnya dianulir oleh menteri agama melalui siaran pers nya, kebijakan itu menuai pro dan kontra dari masyarakat luas terutama dari penyelenggaranya.

Salah satu alasan pemerintah yang mendasari pengambil alihan ini adalah ramainya penipuan yang terjadi dari travel umroh bodong. Hitungan sederhana dari website media nasional menunjukkan bahwa setiap bulannya ada ribuan calon tamu Allah yang tertipu.

Padahal yang muncul di media sebenarnya pasti hanya puncak gunung es. Gunung es nya jauh lebih besar lagi, alasannya sederhana, biro travel umroh bodong biasanya menggandeng tokoh agama (cth:ustadz) untuk memasarkan produknya. Tentunya, jika ada masalah hampir tidak mungkin masyarakat akan melaporkan tokoh tersebut ke polisi kan ?

Anehnya, masyarakat nampaknya masih belum belajar dari ratusan kejadian yang sudah terjadi selama beberapa tahun terakhir ini padahal modus penipuan umroh ini sudah terjadi sejak tahun 90an atau bahkan lebih awal lagi.

 

Untuk memahami apa motif biro menjual paket umroh murah dengan harga super murah kita harus memahami seberapa besar biaya umroh dari paket umroh yang wajar, dengan mendetailkan struktur biaya dari masing masing komponennya. Secara umum, komponen biaya umroh adalah transportasi udara, penginapan/akomodasi, transportasi lokal, katering, muthawif / local handling, visa dan keuntungan biro

 

  1. Transportasi udara

 

Besaran biaya transportasi udara biasanya bergantung dari beberapa faktor yaitu jenis maskapainya (full service, medium atau LCC), waktu keberangkatan, harga minyak dunia dan banyak hal lainnya. Secara umum, biaya maskapai full service adalah US$1.100 keatas, medium US$900 keatas dan LCC di US$700 keatas.

 

  1. Penginapan / Akomodasi

 

Biaya untuk fasilitas ini di Tanah suci paling rendah adalah sekitar 100 US$ untuk penginapan 6-7 hari per kepala untuk fasilitas sekelas apartemen / flat. Untuk hotel bintang 3 sekitar US$200, bintang 4 sekitar 300US$ dan bintang 5 diatas 400US$.

 

  1. Transportasi lokal

 

Untuk transportasi lokal, biaya standar untuk penyewaan bis yang mengikuti sekitar US$100 untuk bis AC dengan fasilitas paling rendah.

 

Ada juga pilihan untuk menggunakan SAPTCO (seperti DAMRI) yang menyediakan fasilitas bis antar kota (Jeddah, Makkah, Madinah) dengan biaya sekali jalan sekitar US$15.

 

  1. Katering

 

Biaya sekali saji adalah sekitar 5-6 US$ per sajian. Mengasumsikan bahwa jamaah harus makan 21 kali dalam waktu 7 hari maka biaya paling sedikit yang harus dikeluarkan tidak kurang adri US$100

 

  1. Muthawif/Local Handling

 

Untuk muthawif, full service besaran biayanya adalah sekitar US$100 selama 8 hari.

 

  1. Visa

 

Biaya visa bervariasi antara 35 US$-70 US$ bergantung musim.

 

  1. Keuntungan Biro

 

Komponen biaya ini tidak ada standarnya, tapi tentu saja sulit kita bisa bayangkan ada biro yang keuntungannya hanya dibawah 5% dari biaya dasar

Selain biaya biaya tersebut, masih ada komponen biaya lain seperti pengurusan pasport, toolkit (kaos, seragam, buku) yang seringkali merupakan tanggung jawab pribadi.

Dengan hitungan tersebut, maka biaya umroh minimal untuk paket umroh dengan level fasilitas terkait adalah

 

  1. Non Bintang : US$1200
  2. Bintang 3 : US$1400
  3. Bintang 4 : US$1600
  4. Bintang 4 : US$1900

 

Dengan rate Dollar 14.000 tentu saja kita bisa mengasumsikan bahwa jika ada paket umroh yang dijual dibawah Rp17.000.000 tidak akan menutupi modal bisnis. Lalu kenapa masih banyak saja travel umroh yang menjual paket umroh dengan harga sangat murah ?

Apakah travel umroh yang menjual paket dengan harga sedemikian itu hanya sekedar promosi ? atau hanya gali lobang tutup lobang saja ?. Lalu juga kenapa banyak travel umroh yang menjual paket dengan harga miring menerapkan sistem antrian dengan alasan kuota ? Padahal beda dengan haji yang memiliki kuota, umroh tidak ada batasan sama sekali.

Apakah kita sedang menuju “kiamat” penyelenggaraan umroh dari data penulis, ada beberapa ratus ribu calon jamaah umroh masuk “daftar antrian” dengan model umroh murah seperti ini ?

Entahlah, Intinya, hati hati, jangan beresiko dalam ibadah umroh. Seperti ungkapan “thing that is too good to be true, probably is”

http://musmus.me/index.php/2015/12/21/ini-bahaya-dibalik-paket-umroh-murah/

Tulisan asli dari kompasiana


Pencarian

Artikel Terbaru

Umroh Sejarah 2016 2017

Umroh 
Sejarah 2016 2017

Umroh Dauroh Quran 2017

Umroh Dauroh Quran 2017

Jadwal Umroh 2016-2017

Umroh 
Semarang 2015-2016