Category Archives: Blog

  • 0

Tata Cara Pelaksanaan Haji Sesuai Tuntunan Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wasalam

Mengingat pentingnya mengetahui manasik haji yang dilaksanakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan sebagai wujud pelaksanaan perintah beliau:

خُذُوْا عَنِّىمَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku manasik haji kalian!”

Maka kami menyajikan terjemahan lengkap hadits Jabir bin ‘Abdillah Radhiallaahu anhu yang menerangkan “Cara Haji Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam “, dan kami sertakan beberapa komentar serta keterangan para ulama berupa catatan kaki, dan hanya kepada Allah kami memohon taufiq dan petunjuk.

Jabir Radhiallaahu anhu berkata: “Bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tinggal di kota Madinah selama sembilan tahun belum pernah melaksanakan haji. Kemudian diumumkan kepada manusia pada tahun kesepuluh Hijriyyah, bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam akan melaksanakan ibadah haji (pada tahun ini).

Maka banyak manusia (para Sahabat) yang berdatangan ke kota Madinah, semua berharap akan mengikuti (tata cara haji) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan melakukan seperti apa yang dilakukan beliau. Lalu kami keluar bersama beliau hingga tiba di Dzul Hulaifah . (Setiba ditempat ini,-Pent) Asma’ binti Umais melahirkan Mu-hammad bin Abu Bakar (ash-Shiddiq), maka ia mengutus seseorang kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam (untuk bertanya) apa yang harus diperbuat-nya, beliaupun bersabda (kepada Asma,-Pent): “Mandilah dan tutuplah (sumbatlah) tempat keluar darah dengan kain dan berihramlah! Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakan shalat di masjid.
A. Rasulullah Berihram.

Kemudian beliau menaiki Qashwa’ (unta beliau,-Pent) hingga setelah berada diatasnya di-tengah padang pasir terbuka, (beliau berihram dengan mengucapkan “لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ” “Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah untuk me-laksanakan haji”.

Selanjutnya Jabir berkata: “Maka aku me-lihat sepanjang mata memandang dari depan beliau para jama’ah haji yang menggunakan kendaraan dan yang berjalan kami, demikian pula disisi kiri beliau, disisi kanan beliau dan dibelakang beliau seperti itu (penuh dengan jama’ah haji,-Pent), sementara Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berada di tengah-tengah kami, dan diturunkan al-Quran (wahyu,-Pent) kepada beliau, dan beliau mengetahui penafsirannya. Apa saja yang beliau lakukan kamipun melakukannya. Selanjutnya beliau mengangkat suaranya dengan membaca “talbiyah” yang berisikan tauhid kepada Allah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرَيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَ النِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيَكَ لَكَ
“Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, sesung-guhnya segala pujian dan kenikmatan ada-lah milik-Mu, demikian pula kekuasaan ini (milik-Mu), tiada sekutu bagi-Mu.”

Manusia pun mengangkat suara mereka sambil bertalbiyah dengan talbiyah yang mereka ucapkan, maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak membantah mereka sedikitpun dari talbiyah mereka itu, sedangkan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam terus menetapi talbiyahnya.

(Selanjutnya) Jabir berkata: “Kami tidak berniat kecuali haji, kami tidak mengetahui umrah.”

B. Memasuki Kota Makkah dan Thawaf

“Hingga tatkala kami telah sampai di Baitullah bersamanya beliau memegang/mengusap Hajar Aswad , lalu thawaf dengan ber-lari-lari kecil pada tiga putaran (pertama) dan berjalan seperti biasa pada empat putaran (berikutnya,-Pent). Lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim Alaihissalam dan membaca:
“ Wattakhidzuu mimmaqaami Ibraahiim”
“…Dan jadikanlah sebagian maqam Ibra-him sebagai tempat shalat…”

Beliau jadikan maqam Ibrahim terletak di antara beliau dan Ka’bah, lalu beliau shalat dua rakaat dengan membaca: Qulhuwallaahu ahad dan Qul yaa ayyuhal kaafiruun
(Setelah shalat) beliau menuju ke sumur zam-zam, lalu minum air zam-zam, dan menuangkannya diatas kepala beliau, kemudian beliau kembali ke Hajar Aswad, lalu mengusapnya.

C. Berdiri di Atas Bukit Shafa dan Marwah

Kemudian beliau keluar dari “pintu Shafa” menuju ke bukit Shafa. Setelah mendekati bukit Shafa, beliau membaca:
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya me-ngerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang-siapa yang mengerjakan suatu kebajiikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Mahamensyukuri kebaikan lagi Maha-mengetahui.”
أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ
“Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”
Lalu beliau memulai dengan menaiki bukit Shafa hingga beliau melihat Ka’bah, kemudian menghadap ke arah kiblat (Ka’bah,-Pent). Maka beliaupun mentauhidkan Allah dan mengagungkan-Nya, serta mengucapkan:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرٍيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Tiada Ilah yang haq kecuali Allah Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan milik-Nya pula segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada Ilah yang haq, kecuali Dia-Yang Mahaesa, Dia telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan golongan yang bersekutu (pasukan gabungan) dengan sendirian.”

Lalu beliau berdo’a di antara bacaan itu, beliau mengucapkan bacaan ini sebanyak tiga kali.

Kemudian beliau turun (dari bukit Shafa,-Pent) menuju ke bukit Marwah, hingga apabila ke-dua kakinya telah menginjak ditengah lembah itu, beliau berlari , hingga apabila kedua kaki-nya mulai mendaki, beliau berjalan (seperti biasa), hingga tiba di Marwah, lalu menaikinya hingga melihat Baitullah , dan beliau lakukan di Marwah seperti apa yang beliau lakukan di Shafa.”

D. Perintah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam Kepada Para Sahabat Untuk Menjadikan Haji Mereka Sebagai Umrah.

Hingga pada akhir putaran sa’inya ketika berada di bukit Marwah, beliau bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَوْ أَنِّى اسْتَقْبَلْتُ مِنَ أَمْرِىْ مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ وَ جَعَلْتُهَا عُمْرَةً فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ لَيْسَ مَعَهُ هَدْيٌ فَلْيَحِلَّ وَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً
“Hai sekalian manusia, seandainya aku mengetahui (ketika permulaan melaksanakan haji ini) apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya akau tidak akan membawa/menggiring binatang hadyu, dan akan kujadikan (pekerjaan hajiku ini) sebagai umrah , maka barangsiapa di antara kalian yang tidak menyertakan binatang hadyu bersamanya (yang tidak membawa binatang hadyu,-Pent) hendaklah ia berta-hallul dan menjadikan (amalannya berupa thawaf dan sa’i yang telah dilakukannya,-Pent) sebagai umrah.”

Dalam riwayat lain beliau bersabda:
أَحِلُّوْا مِنْ إِحْرَامِكُمْ فَطُوْفُوْا بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَقَصِّرُوْا وَأَقِيْمُوْا حَلاَلاً حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ فَأَهِلُّوْا بَالِحِجِّ وَاجْعَلُوْا الَّتِيْ قَدِمْتُمْ بِهَا مُتَعَةً
“Bertahallullah dari ihram kalian, maka thawaflah di Baitullah dan di antara Shafa dan Marwah, serta pendekkanlah (rambut-rambut kepala kalian), dan tinggallah (di Makkah,-Pent) sebagai orang yang halal (yang tidak dalam keadaan berihram,-Pent) hingga datangnya hari Tarwiyah , maka berihram-lah untuk haji dan jadikanlah apa yang telah kalian datang dengannya sebagai haji Tamattu’.”

(Selanjutnya, Jabir Radhiallaahu anhu berkata:-Pent)
Maka bangkitlah Suraqah bin Malik bin Ju’syum (yang pada saat itu dia berada di kaki bukit Marwah), ia berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ عُمْرَتَنَا؟ – وَفِيْ لَفْظٍ: مُتْعَتَنَا؟- أَلِعَامِنَا هَذَا أَمْ لأَبَدٍ؟ فَشَبَّكَ رَسُوْلُ اللهِ أَصَابِعَهُ وَاحِدَةً فِيْ أُخْرَى وَقَالَ: دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِيْ الْحَجَّ –مَرَّتَيْنِ- (إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ) “لاَ” بَلْ لأَبَدٍ أَبَدٍ

“Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang umrah kami ini? -Dalam redaksi yang lain: Tamattu’ kami ini?- Apakah hanya untuk tahun kita ini saja ataukah untuk selamanya? Maka Rasulullah Shallallohu’alaihi wasallam; mencengkeramkan (menyatukan) jari-jari tangan (kanannya,-Pent) pada jari-jari tangan (kiri-nya-Pent), dan berkata: ‘Umrah telah masuk dalam haji’ (sampai hari Kiamat), bahkan sampai selama-lamanya.”

E. Khutbah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Menekankan Para Jama’ah Haji Qiran Yang Tidak Menggiring Binatang Hadyu dan Para Jama’ah Haji Ifrad Untuk Menjadikan Haji Mereka Sebagai Umrah.

Maka bangkitlah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah haji, beliau memuji dan menyanjung Allah Subhannahu wa Ta’ala , lalu berkata:
أَبِاللهِ تَعْلَمُوْنِيْ أَيُّهَا النَّاسُ!؟ قَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّيْ أَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَ أَصْدَقُكُمْ وَ أَبَرُّكُمْ، افْعَلُوْا مَا آمُرُكُمْ بِهِ فَإِنِّى لَوْ لاَ هَدْيِىْ لَحَلَلْتُ كَمَا تَحِلُّوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَحِلُّ مِنِّى حَرَامٌ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْىُ مَحِلَّهُ ، وَلَوِ اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِى مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ
“Demi Allah, wahai sekalian manusia Apa-kah kalian mengetahui aku!? Sungguh kalian telah mengetahui bahwasanya aku adalah orang yang paling takwa kepada Allah di antara kamu, paling jujur dan paling berbakti, laksanakanlah apa yang kuperintahkan kepada kalian, karena pada hakikatnya kalau bukan karena binatang hadyu, niscaya aku akan bertahallul sebagaimana kalian bertahallul, akan tetapi aku tidak bertahallul dari ihramku ini, sehingga binatang ini tiba di tempat penyembelihannya (hingga disembelih,-Pent). Seandainya dahulu aku mengetahui (berupa kesulitan) dalam urusan ini apa-apa yang kuketahui sekarang ini, niscaya aku tidak akan menggiring binatang hadyu.”

Maka bertahallul-lah semua jama’ah haji yang menyertai Rasulullah dan mereka memendekkan rambut, kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan mereka yang telah membawa binatang hadyu, dan tidak ada di antara mereka yang meng-giring binatang hadyu, kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan Thalhah (bin ‘Ubaidillah Radhiallaahu anhu ,-Pent).

F. Kedatangan ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu Dari Negeri Yaman.

‘Ali (bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu ,-Peny.) pun tiba dengan membawa sejumlah unta Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , lalu ia mendapati Fathimah Radhiallaahu anha (istrinya,-Pent) ter-masuk di antara mereka yang bertahallul, ia memakai pakaian yang dicelup (dengan wangi-wangian,-Pent) dan memakai celak mata, maka ‘Ali mengingkari (perbuatannya) itu. Fathimah berkata: “Sesungguhnya aku diperintahkan oleh ayahku untuk bertahallul.”

Jabir berkata (melanjutkan ceritanya,-Pent), ketika ‘Ali berada di Irak, dia berkata (men-ceritakan kisahnya ketika melihat Fathimah bertahallul,-Pent).

“Maka aku pergi kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , dan aku menyayangkan apa yang telah dilakukan Fathimah sambil meminta fatwa kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tentang apa yang disebutkan oleh Fathimah dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Lalu kuberitahukan kepada beliau bahwa aku mengingkari perbuatan Fathimah (dalam hal tahallulnya,-Pent), maka beliau berkata: ” Dia (Fathimah) benar, dia benar! (Kata Jabir). Dan beliau berkata ke-pada ‘Ali: ‘Apa yang kamu ucapkan ketika kamu haji?’ ‘Ali berkata: Aku berkata:
اَللَّهُمَّ إِنِّى أُهِلُّ بِمَا أَهَلَّ بِهِ رَسُوْلُكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berihram dengan apa yang Rasul-Mu berihram dengannya.”

Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya bersamaku ada binatang hadyu, maka janganlah kamu bertahallul.”

Jabir berkata (melanjutkan ceritanya,-Pent): “Dengan demikian jumlah binatang hadyu yang dibawa ‘Ali dari Yaman dan yang dibawa oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebanyak seratus (100) ekor unta.”

Jabir berkata: “Maka bertahallul-lah seluruh jama’ah haji dan memendekkan (rambut-rambut mereka,-Pent), kecuali Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan mereka yang membawa hadyu.”

G. Menuju Mina Pada Hari Tarwiyah.

Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah,-Pent), para jama’ah haji berangkat menuju Mina. (Ketika akan berangkat dari tempat tinggal mereka,-Pent) mereka berihram untuk haji (dengan mengucapkan: “لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ”,-pent).

Jabir aberkata: “Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam masuk menemui ‘Aisyah Radhiallaahu anha (sebelum berangkat ke Mina,-Pent). Beliau dapati ‘Aisyah sedang menangis, maka beliau berkata: “Apa-kah gerangan yang menyebabkan engkau menangis?” ‘Aisyah berkata: “Keadaanku, aku sedang haidh sedangkan jama’ah haji telah bertahallul dan aku belum bertahallul, dan belum melaksanakan thawaf (umrah) di Baitul-lah, sementara orang-orang berangkat ke haji sekarang ini.” Maka beliaupun bersabda:
إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاَغْتَسِلِى ثُمَّ أَهِلِّى بِالْحَجِّ ثُمَّ حُجِّى وَاصْنَعِى مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوْفِيْ بِالْبَيْتِ وَلاَ تُصِلِّى – فَفَعَلَتْ
“Sesungguhnya (haidh,-Pent) itu adalah suatu perkara yang telah ditentukan Allah atas para wanita, maka mandilah kemudian ucapkanlah talbiyah untuk haji لَبَيْكَ اللَّهُمَّ بِحَجَّةٍ –Pent, lalu hajilah dan lakukanlah semua (amalan) yang dilakukan oleh orang yang melaksanakan haji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di Baitullah dan tidak boleh shalat , maka (‘Aisyah) pun melaksanakannya.”

Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengendarai (untanya untuk berangkat ke Mina,-Pent). Beliau disana melaksanakan shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan Shubuh , kemudian beliau tetap menunggu disana sejenak hingga matahari terbit , lalu menyuruh untuk mendirikan sebuah Qubbah dari bulu unta yang dipersiapkan untuk beliau (berteduh ketika wuquf) di Namirah.

H. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam Berangkat Menuju ‘Arafah.

Lalu berangkatlah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dan orang-orang Quraisy dengan tidak ragu. Namun beliau berhenti pada Masy’aril Haram yang terletak di Muzdalifah, disitulah tempat turun beliau, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Quraisy di zaman Jahiliyyah. Kemudi-an beliau melanjutkan perjalanannya hingga mendatangi (sebuah tempat dekat) padang ‘Arafah, dan beliau jumpai bahwasanya Qubbah (kemah) beliau telah dibangun di Namirah, lalu beliaupun turun ditempat tersebut, hingga ketika matahari telah tergelincir, beliau memerintahkan agar unta beliau ” al-Qashwa’ ” segera dipasang pelananya, lalu beliau melanjutkan perjalanannya dan memasuki tengah lembah.

I. Khutbah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di Arafah.

(Beliau bersabda:)
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَ أَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا فِيْ بَلَدِكُمْ هَذَا أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوْعٌ
“Sesungguhnya darah-darah dan harta-harta kalian haram atas kamu sekalian seperti haramnya harimu ini, di bulanmu ini, di negerimu ini. Ketahuilah segala sesuatu dari perkara Jahiliyyah diletakkan dibawah kedua telapak kakiku ini.
وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعَةٌ وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَاءِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيْعَةَ ابْنِ الْحَارِثِ – كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِيْ بَنِى سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ – وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ وَ أَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَا عَبَّاسٍ ابْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوْعٌ كُلُّهُ
“Darah-darah dizaman Jahiliyyah diletakkan (dibatalkan dari tuntutan,-Pent) dan (tuntutan) darah pertama yang dibatalkan di antara tuntutan darah-darah kami adalah darah Ibnu Rabi’ah bin al-Harits, dia adalah seorang anak yang disusukan dikalangan Bani Sa’ad, lalu ia dibunuh oleh seorang dari suku Hudzail. Riba Jahiliyyah pun dibatalkan dan riba pertama yang aku letakkan (batalkan adalah riba milik ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, semua riba itu dibatalkan.”
فَاتَّقُوْا اللَّهَ فِيْ النِّسَاءِ وَإِنَّكُمْ أَخَذْ تُمُوْهُنَّ بِأَمَانِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِـمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَـكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُوْنَهُ فَإِنْ فَعَلْنَ فَاضْرِبُـوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَـيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
“Bertakwalah kamu kepada Allah dalam (memperlakukan) para isteri, karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah, dan menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban mereka atasmu yaitu mereka tidak boleh mempersilahkan seorang pun yang tidak kamu senangi untuk masuk ke rumahmu. Dan apabila mereka melanggar hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras dan tidak menyakitkan. Dan kewajibanmu atas mereka yaitu memberi rizki (makan) dan pakaian dengan cara yang baik.”
وَإِنِّى قدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا – لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ وَ أَنْتُمْ تُسْأَلُوْنَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُوْنَ؟ قَالُوْا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِأَصْبُعِهِ السَّبَـابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيُنْكِتُهَا إِلَى النَّاسِ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ اللَّهُمَّ اشْهَدْ (ثَلاَثَ مَرَّاتٍ)
“Dan bahwasanya telah kutinggalkan padamu sesuatu yang menyebabkan kamu tidak akan tersesat selama-lamanya jika kamu berpegang teguh padanya, yaitu “Kitabullah”. Dan kamu akan ditanya tentangku, maka apakah jawaban kalian? (Para Sahabat) berkata: ‘Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan (risalah Rabbmu), menunaikan (amanah) dan menasihati (ummat), lalu beliaupun bersabda sambil mengangkat jari telunjuk-nya ke langit dan menggerakkannya kepada para Sahabat (jama’ah haji): ‘Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah (beliau mengucapkannya tiga kali.'”)

J. Menjamak Shalat di ‘Arafah.

Kemudian Bilal mengumandangkan adzan satu kali, lalu membaca iqamah, maka Nabi pun melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian Bilal membaca iqamah sekali lagi, lalu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakan shalat ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara kedua shalat tersebut. Kemudian beliau menaiki untanya hingga tiba di tempat wuquf, beliau menjadikan perut untanya, al-Qashwa’, rapat ke batu-batu gunung dan menjadikan tempat berkumpulnya para pejalan kaki ber-ada didepannya, beliau mengahadap ke arah kiblat dan tetap wuquf hingga matahari ter-benam dan hilangnya mega kuning, serta bola matahari tenggelam. (Ketika wuquf beliau membonceng Usamah (bin Zaid,-Pent) dibelakangnya).

K. Bertolak Dari ‘Arafah.

(Lalu) Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertolak (dari ‘Arafah) dengan penuh ketenangan, beliau menyempitkan kekang (kendali) unta al-Qashwa’ hingga kepala unta itu menyentuh tempat meletakkan kaki yang ada di kendaraan itu. Dan beliau memberikan isyarat dengan tangan kanannya (kepada para jama’ah haji) seraya bersabda:
أَيُّهَاالنَّاسُ السَّكِيْنَةَ! السَّكِيْنَةَ
“Wahai sekalian manusia tenanglah, tenanglah!”

Setiap kali beliau tiba dibukit pasir, beliau longgarkan kendali untanya sedikit hingga untanya mendaki.

L. Menginap di Muzdalifah.

Sesampainya di Muzdalifah, beliau me-laksanakan shalat Maghrib dan ‘Isya’ dengan satu adzan dua iqamah, beliau tidak shalat sunnah di antara kedua shalat itu. Kemudian beliau berbaring (tidur) hingga terbit fajar Shubuh, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh setelah kelihatan jelas masuknya waktu Shubuh dengan satu kali adzan dan satu kali iqamah.

Wuquf di Masy’aril Haram (Muzdalifah)
Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam naik al-Qashwa’ hingga tiba di “Masy’aril Haram”, beliau langsung menghadap kiblat lalu berdo’a kepada Allah, bertakbir dan bertahlil (mengucapkan kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illallaah) serta mentauhidkan-Nya. Beliau terus melaksa-nakan wuquf ini hingga pagi hari telah sangat terang dan beliau berkata:
وَقَفْتُ هَهُنَا وَالْمُزْدَلِفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ
“Aku wukuf disini dan seluruh lokasi Muzdalifah adalah tempat wukuf.”

M. Bertolak dari Muzdalifah untuk Melempar Jumratul ‘Aqabah.

Sebelum matahari terbit, beliau bertolak (dari Muzdalifah ke Mina,-Pent), beliau membonceng Fadhl bin ‘Abbas, ia adalah seorang yang berambut indah, berkulit putih dan ber-paras tampan. Ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berangkat, maka ada beberapa wanita berlari melewati beliau, Fadhl pun melihat kepada mereka (para wanita itu), maka Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menempelkan tangannya diatas wajah Fadhl, lalu Fadhl memutar wajahnya ke arah yang lain (agar dapat) melihat (mereka), maka beliaupun memutar tangannya ke arah yang lain itu sambil memalingkan wajah Fadhl agar melihat ke arah lain, hingga beliau tiba di lembah “Muhassir” dan sedikit mempercepat gerak (jalan) untanya.

N. Melempar Jumratul ‘Aqabah (Jumratul Kubra) [Tanggal 10 Dzulhijjah].

Kemudian beliau menempuh jalan tengah yang tembus keluar menuju Jumratul Kubra hingga tiba di Jamrah yang terletak di dekat pohon kemudian beliau melontarnya dengan tujuh batu kecil sambil bertakbir (membaca:اللَّهُ أَكْبَرْ ,-Pent) pada setiap lontaran yang batunya sebesar batu yang digunakan untuk ketapel, beliau melontarnya dari tengah-tengah lembah sambil berkata:
لِتَأْخُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِي لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

“Ambillah dariku manasik haji kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, bisa jadi aku tidak akan melaksanakan ibadah haji lagi setelah hajiku ini.”

O. Menyembelih Binatang Hadyu dan Mencukur Gundul Rambut Kepala.

Lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam berangkat menuju lokasi penyembelihan dan menyembelih 63 (enam puluh tiga) ekor unta dengan tangan beliau, kemudian diserahkan kepada ‘Ali (bin Abi Thalib,-Pent). Lalu binatang kurban yang se-lebihnya disembelih oleh ‘Ali dan digabung-kan dengan binatang hadyunya. Lalu beliau memerintahkan untuk mengambil sepotong daging dari setiap satu ekor unta hadyunya, kemudian dimasukkan kedalam periuk untuk dimasak. Lalu beliau makan dari daging kurban itu dan meminum air kuahnya.

Dalam riwayat lain: “Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menyembelih (hewan hadyu), lalu mencukur (rambut kepalanya sampai bersih,-Pent), lalu beliau duduk di Mina pada hari Nahar (10 Dzulhijjah,-Pent). Maka tidaklah beliau ditanya tentang suatu (pekerjaan yang dilakukan pada hari itu) yang didahulukan sebelum yang lainnya, melainkan beliau menjawab: “Tidak mengapa, tidak mengapa.”

P. Menuju Makkah untuk Thawaf Ifadhah.

Kemudian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengendarai untanya, lalu bertolak ke Baitullah, kemudian melaksanakan thawaf ifadhah, dan beliau shalat Zhuhur di Makkah. Kemudian beliau mendatangi Bani ‘Abdul Muththalib yang sedang memberi minum air zam-zam (kepada para jama’ah haji), lalu berkata:
اِنْزِعُوْا بَنِى عَبْدِالْمُطَّلِبِ فَلَوْ لاَ أَنْ يَـغْلِبَكُمُ النَّاسُ لَنَزَعْتُ مَعَكُمْ فَنَاوَلُوْهُ دَلْوًا فَشَرِبَ مِنْهُ
“Timbalah (air zam-zam itu) wahai Bani ‘Abdul Muththalib, kalau sekiranya (aku tidak merasa khawatir) kamu akan dikalah-kan oleh para jama’ah haji atas pemberian minum ini, tentu aku akan menimba dengan kalian, kemudian mereka meyerahkan setimba air zam-zam kepada beliau, maka beliaupun meminumnya.”

(Terjemahan hadits ini dinukil dan dipadukan dari beberapa sumber, yaitu Shahih Muslim bab “Hajjatun Nabiyyi Shalallaahu alaihi wasalam 8/402-421 hadits No. 2941, Hajjatun Nabi Shalallaahu alaihi wasalam : 45-92 karya Syaikh al-Albani, dan Shifat Hajjatin Nabi Shalallaahu alaihi wasalam karya asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zinu hal: 3-16.)


  • 0

  • 0

Meninggal ketika sedang melakukan ibadah haji dan umroh

Berikut beberapa fikih mengenai jamaah yang meninggal ketika sedang melakukan ibadah haji dan umrah:

  1. Jika meninggal ketika ihram:
  • Dimandikan dengan air bercampur daun bidara atau hal yang membuat harum semisal sabun
  • Dikafani dengan dua potong kain diriwayat lainnya dengan kain ihramnya
  • Tidak diberi wewangian
  • Tidak ditutup kepala dan wajahnya
  • Akan dibangkitkan hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah

Hal ini karena mereka akan dibangkitkan dihari kiamat sebagaimana keadaan orang yang berihram, yaitu tidak memakai wangi-wangian, tidak ditutup wajahnya. Adapun memandikan dengan bidara tujuannya agar jasad tetap harum ketika memandikan dan sabun semisal dengan bidara.1

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

بينما رجل واقف بعرفة، إذ وقع عن راحلته فوقصته، أو قال: فأقعصته، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اغسلوه بماء وسدر، وكفنوه في ثوبين -وفي رواية: في ثوبيه- ولا تحنطوه -وفي رواية: ولا تطيبوه- ، ولا تخمروا رأسه ولا وجهه ، فإنه يبعث يوم القيامة ملبيا

Ketika seseorang tengah melakukan wukuf di Arafah, tiba-tiba dia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu hewan tunggangannya menginjak lehernya sehingga meninggal. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Mandikanlah dengan air yang dicampur daun bidara lalu kafanilah dengan dua potong kain – dan dalam riwayat yang lain: “ dua potong kainnya “- dan jangan diberi wewangian. Jangan ditutupi kepala dan wajahnya. Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiyamat nanti dalam keadaan bertalbiyah.”2

  1. Pahala haji dan umrahnya ditulis hingga hari kiamat

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

من خرج حاجا فمات كتب له أجر الحاج إلى يوم القيامة ومن خرج معتمرا فمات كتب له أجر المعتمر إلى يوم القيامة ومن خرج غازيا فمات كتب له أجر الغازي إلى يوم القيامة

Barangsiapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, maka dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, maka ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barangsiapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat.”3

  1. Jika meninggal dalam perjalanan dan belum melakukan ihram, maka tidak termasuk meninggal dalam ketika beribadah haji

Misalnya pesawatnya jatuh ketika perjalanan dari negaranya ke Saudi dan belum berihram. Maka tidak termasuk dalam bab “meninggal ketika ibadah haji dan umrah”.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

إذا هلك من سافر للحج قبل أن يخرج فليس بحاج ، لكن الله عز وجل يثيبه على عمله ، أما إذا أحرم وهلك فهو …. ولم يأمرهم بقضاء حجه ، وهذا يدل على أنه يكون حاجاً ” انتهى .

“Jika kecelakaan ketika safar menuju haji sebelum ia ia keluar (berihram) maka tidak terhitung haji. Akan tetapi Allah akan membalas sesuai niatnya. Adapun jika sudah berihram, kemudian kecelakaan (misalnya mobilnya tabrakan, pent), maka termasuk dalam hadits (cara mengurus jenazahnya).”4

  1. Jika meninggal ketika haji (sudah berihram), maak tidak perlu diqadhakan tahun depan oleh walinya

Karena hadits menunjukkan bahwa ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah hari kiamat dan ini menunjukka ia sudah mencukup hajinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelasakan,

ولم يأمرهم بقضاء حجه ، وهذا يدل على أنه يكون حاجاً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk diqadhakan (untuk yang meninggal), karena statusnya ia sudah berhaji.”5

Demikian semoga bermanfaat.

***

 

Catatan kaki

1 Kami ringkas dari: http://www.sonnaonline.com/DisplayExplanation.aspx?ExplainId=84,49079,95503,81134,89863,118245

2 H.R.Bukhari no. 1265 dan Muslim no 1206

3 HR Abu Ya’la dan dishahihkan Albani dalam Shahih At Targhib 1114

Majmu’ Fatawa syaikh Utsaimin 21/252

Majmu’ Fatawa syaikh Utsaimin 21/252

Sumber: https://muslim.or.id/26603-meninggal-ketika-ibadah-haji-dan-umrah.html


  • 0

Makna Ihram

Sebelumnya, pernahkah anda bertanya mengapa kita diwajibkan untuk memakai pakaian ihram pada waktu haji dan umroh ? Lalu mengapa pakaian ihram tersebut tidak boleh dijahit? Dan mengapa harus berwarna putih serta terbuat dari bahan yang sama? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka kita harus merujuk kepada salah satu firman Allah Swt. yang menyatakan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan dengan status yang sama yakni sebagai khalifah di bumi (QS. 6:165, QS. 10:14) dan sesungguhnya yang membedakan manusia dihadapan Allah Swt. adalah iman dan taqwa (QS. 49:13). Dengan memakai ihram, maka manusia dibebaskan dari status-status yang bersifat duniawi. Kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang sedang berhaji ketika itu, mungkin ada pengusaha, artis, atau mungkin pejabat diantara kita karena ketika kita berhaji, maka satu-satunya status yang melekat pada diri kita adalah sebagai hamba Allah Swt., tidak lebih.

Makna lain yang terkandung dalam pemakaian pakaian ihram adalah sesungguhnya kita menghadap Allah Swt. dalam ketelanjangan. Itu sebabnya kita dilarang untuk menjahit ihram. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita datang menghadap Allah Swt. dalam ketelanjangan? Sebenarnya hal tersebut merupakan perumpamaan dimana kita diminta untuk menghadap Allah Swt. dengan apa adanya, tidak terjebak oleh materi-materi duniawi, seperti pakaian sehari-hari yang, kembali, dapat melekatkan kita kepada status yang ada di dalam masyarakat.

Selain itu, pernahkah anda menyadari bahwa dengan memakai ihram, sesungguhnya kita diingatkan bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah abadi, melainkan hanya senda gurau belaka (QS. 29:64). Dalam hal ini, pakaian ihram dianalogikan sebagai kain kafan yang setiap saat dapat membalut tubuh kita. Untuk itu kita harus menyadari benar konsep inna lillahi wa inna ilaihi raji’un yang mengandung arti bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan Allah Swt. dan kepada-Nyalah kita akan kembali.

Pemaparan di atas merupakan makna dari ihram apabila ditinjau dari dimensi yang pertama, yaitu dimensi vertikal. Lalu apakah makna ihram apabila dilihat dari dimensi yang kedua, yaitu horizontal? Sesungguhnya, makna yang terkandung sangatlah sederhana yaitu kita diminta untuk menanggalkan segala kepalsuan dan diminta untuk senantiasa bertindak apa adanya. Salah satu budaya negatif dari masyarakat Indonesia yang mengandung unsur kepalsuan tersebut adalah budaya hipokrit atau mungkin kita lebih mengenalnya dalam kalimat asal bapak senang (ABS). Hipokrit atau munafik, merupakan suatu sikap dimana kita melegalkan kedustaan demi tercapainya keinginan pribadi. Sebagai contoh, kita sering mendengar seseorang memuji atasannya demi kenaikan pangkat, bukan karena atasannya memang layak untuk dipuji karena kepribadiannya ataupun etos kerjanya.

Di samping itu, dengan memakai pakaian ihram kita disadarkan untuk melepaskan diri dari kesombongan, klaim superioritas, maupun ketidaksamaan derajat atas manusia yang lain. Oleh karena itu, kita diharuskan agar senantiasa berbuat baik serta mengedepankan sikap untuk saling menghormati dengan sesama. Apabila hal ini dapat terwujud, maka cita-cita akan perdamaian, toleransi, ataupun kerukunan masyarakat akan lebih mudah untuk direalisasikan.


  • 0

Makna Thawaf

Thawaf merupakan rangkaian dari ibadah haji dimana kita diharuskan untuk mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Pada hakekatnya, pelaksanaan thawaf dapat diartikan sebagai tindakan meniru perilaku alam semesta yang senantiasa ‘berdzikir’ kepada Allah Swt. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan alam, kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya benda-benda alam senantiasa bergerak. Gunung yang besar dan kokoh ternyata bergerak (bergeser), bulan bergerak dengan mengelilingi bumi, bumi bergerak dengan mengelilingi matahari, dan mataharipun bergerak mengelilingi pusat dari gugusan-gugusan bintang yaitu galaksi bima sakti (milky way) atau yang kita kenal dengan sebutan black hole. Inilah makna thawaf dalam dimensi vertikal, yaitu penegasan bahwa sesungguhnya kita merupakan bagian dari alam semesta yang tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta, yakni Allah Swt. dan diharuskan untuk senantiasa mengingat-Nya.

Dalam dimensi horizontal, kita diminta untuk senantiasa hidup dengan penuh keteraturan seperti keteraturan gerak benda-benda alam raya. Bayangkan apabila gerakan yang dilakukan oleh benda-benda tersebut tidak teratur, tentunya akan mengakibatkan chaos (suatu keadaan dengan penuh ketidakteraturan) yang tentunya dapat membawa kehancuran kepada benda-benda alam itu sendiri. Sama halnya dengan benda-benda alam tersebut, manusia juga dapat mengalami kehancuran apabila tidak hidup dalam keteraturan karena dapat memicu konflik. Keseimbangan hidup, itulah kunci agar kita dapat hidup dalam keteraturan, ingat, alam raya diciptakan juga atas dasar konsep keseimbangan (QS. 55: 7-9).

Selain masalah keteraturan, dalam melaksanakan thawaf kita juga diingatkan bahwa sesungguhnya kehidupan setiap manusia senantiasa berputar. Mungkin hari ini kita berada dalam kebahagian, tetapi mungkin esok kita hidup dalam kesusahan. Dan sesungguhnya semua itu merupakan cobaan dari Allah Swt. yang ingin menguji sampai sejauh mana tingkat keimanan kita.


Pencarian

Artikel Terbaru

Promo Umroh Dahsyat 2018

Promo Umroh Saibah 2017-2018

Jadwal Umroh 2017-2018